Jurus “The Power of Kepepet” Berbuah Manis

23 December 2012


Hidupnya jauh dari kampung halaman, Sebatik, Nunukan. Sejak memutuskan hijrah ke Samarinda untuk kuliah pada 2008, beban ekonomi di ibu kota provinsi dirasa semakin bertambah. Tak ayal, ia pun mengencangkan ikat pinggang demi menghemat uang kiriman dari keluarga. Tapi nasibnya kini berubah, puluhan juta rupiah bisa ia raup dalam sebulan.

Adalah Samsul Alam, mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Biologi di Universitas Mulawarman (Unmul) ini asyik menggeluti bisnis distribusi pakaian di Samarinda. “Awalnya karena kepepet saja, butuh uang tambahan untuk beli makan,” ucap Alam.
Sebelum menggeluti bisnis konfeksi, rupanya Alam pernah menjadi pekerja serabutan. “Saya pernah berjualan sepatu ke mahasiswa di kampus,” kenangnya. Karena dianggap tidak mendatangkan keuntungan banyak, perantau asal Sebatik ini mengganti usahanya menjadi distributor. “Saya tidak banyak keluarkan modal. Modal utamanya kepercayaan dari produsen saja,” katanya. Dia menceritakan, pertama kali mengenal produsen pakaian tersebut, ketika Alam menghadiri acara kemahasiswaan di Bandung tahun 2009.
Berawal dari pertemuan tersebut, Alam mendapat tawaran menjadi distributor bisnis konfeksi tersebut untuk wilayah Samarinda. “Dia percayakan barangnya kepada saya. Jadi barang langsung dikirim, padahal saya tidak mengeluarkan uang sedikit pun,” ujar Alam. Dia menerangkan, kejujuran menjadi modal berharga baginya sebelum memulai bisnis.
Jenis pakaian yang dijualnya bervariasi, mulai jaket, kaus, jas formal, jas jenis blazer hingga seragam untuk training. Dijelaskannya, semua pakaian dijual berdasarkan sistem order, artinya bukan melalui cara partai ataupun eceran. “Kalau langsung pesan atau secara partai, khawatirnya tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Makanya, kami lebih memilih cara by order,” kata pemuda berusia 22 tahun ini.
Ia menambahkan pasar terbesarnya selama ini adalah mahasiswa dari beberapa universitas di Samarinda seperti Unmul, Universitas Widyagama, hingga Universitas 17 Agustus 1945. Selain itu, beberapa perusahaan juga pernah memesan kaus padanya untuk keperluan training atau pelatihan. Dia mengatakan, Kota Banjarmasin menjadi pasar terjauh. “Kalau untuk Kaltim, orderan terjauh dari Tarakan, Sebatik, dan Nunukan,” lanjut Alam.
Dari bisnis ini, Alam bisa meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan dan paling sedikit Rp 10 juta. “Bahkan, kami pernah dapat omzet sampai Rp 200 juta tahun 2011 karena kebanjiran order,” ucapnya. Prinsip Alam dalam berjualan adalah berikan kepuasan kepada konsumen dan hindari berjualan dengan cara riba. “Sebisa mungkin saya tidak ingin riba. Selain bertentangan dengan hukum agama juga lebih banyak merugikan konsumen,” tegasnya.
Tapi bukan pengusaha namanya bila tidak pernah rugi. Lelaki ini pun pernah alami kerugian. Seperti barang yang sudah dipesan terpaksa dikembalikan lagi karena tidak sesuai kemauan konsumen. “Kami sudah buatkan desain, tapi tidak sesuai, terpaksa kami kembalikan untuk ganti desain. Setelah datang, masih tidak sesuai juga,” keluhnya. Dari situ Alam pun rugi hingga jutaan rupiah.
Sebagai pengusaha muda, Alam memiliki cita-cita membuka cabang konfeksi di kampung halamannya di Sebatik. Bahkan, jika provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sudah benar-benar berdiri sendiri, dia ingin membuka pusat konfeksi di provinsi tersebut. “Kalau pemuda sudah mandiri dan punya mental berwirausaha, dia akan memberikan banyak manfaat. Percaya itu,” tandasnya. {sumber}

No comments:

Post a Comment

Lengkapi Kunjungan kamu dengan meninggalkan komen yang bisa membangun dan menginspirasi penulis.
Terima kasih!

 

Followers

Subscribe Now!

Boerhan Blogs